...Welcome To My Blog..... Budak Bogor.......Welcome To My Blog..... Budak Bogor.......Welcome To My Blog..... Budak Bogor.......Welcome To My Blog..... Budak Bogor....

Cari Blog Ini

Selasa, 16 Juni 2009

Ada Tetesan SetelahTetesan Terakhir

Pasar malam dibuka di sebuah kota . Penduduk menyambutnya dengan gembira.
Berbagai macam permainan, stand makanan dan pertunjukan diadakan. Salah satu
yang paling istimewa adalah atraksi manusia kuat.

Begitu banyak orang setiap malam menyaksikan unjuk kekuatan otot manusia
kuat ini.

Manusia kuat ini mampu melengkungkan baja tebal hanya dengan tangan
telanjang. Tinjunya dapat menghancurkan batu bata tebal hingga
berkeping-keping.

Ia mengalahkan semua pria di kota itu dalam lomba panco. Namun setiap kali
menutup pertunjukkannya ia hanya memeras sebuah jeruk dengan genggamannya.
Ia memeras jeruk tersebut hingga ke tetes terakhir.

'Hingga tetes terakhir', pikirnya.

Manusia kuat lalu menantang para penonton: 'Hadiah yang besar kami sediakan
kepada barang siapa yang bisa memeras hingga keluar satu tetes saja air
jeruk dari buah jeruk ini!'

Kemudian naiklah seorang lelaki, seorang yang atletis, ke atas panggung.
Tangannya kekar. Ia memeras dan memeras. dan menekan sisa jeruk. tapi tak
setetespun air jeruk keluar. Sepertinya seluruh isi jeruk itu sudah terperas
habis. Ia gagal. Beberapa pria kuat lainnya turut mencoba, tapi tak ada yang
berhasil. Manusia kuat itu tersenyum-senyum sambil berkata : 'Aku berikan
satu kesempatan terakhir, siapa yang mau mencoba?'

Seorang wanita kurus setengah baya mengacungkan tangan dan meminta agar ia
boleh mencoba. 'Tentu saja boleh nyonya. Mari naik ke panggung.' Walau
dibayangi kegelian di hatinya, manusia kuat itu membimbing wanita itu naik
ke atas pentas. Beberapa orang tergelak-gelak mengolok-olok wanita itu. Pria
kuat lainnya saja gagal meneteskan setetes air dari potongan jeruk itu
apalagi ibu kurus tua ini. Itulah yang ada di pikiran penonton.

Wanita itu lalu mengambil jeruk dan menggenggamnya. Semakin banyak penonton
yang menertawakannya. Lalu wanita itu mencoba memegang sisa jeruk itu dengan
penuh konsentrasi. Ia memegang sebelah pinggirnya, mengarahkan ampas jeruk
ke arah tengah, demikian terus ia ulangi dengan sisi jeruk yang lain. Ia
terus menekan serta memijit jeruk itu, hingga akhirnya memeras. dan 'ting!'
setetes air jeruk muncul terperas dan jatuh di atas meja panggung.

Penonton terdiam terperangah. Lalu cemoohan segera berubah menjadi tepuk
tangan riuh.

Manusia kuat lalu memeluk wanita kurus itu, katanya, 'Nyonya, aku sudah
melakukan pertunjukkan semacam ini ratusan kali. Dan, banyak orang pernah
mencobanya agar bisa membawa pulang hadiah uang yang aku tawarkan, tapi
mereka semua gagal. Hanya Anda satu-satunya yang berhasil memenangkan hadiah
itu.

Boleh aku tahu, bagaimana Anda bisa melakukan hal itu?'

'Begini,' jawab wanita itu, 'Aku adalah seorang janda yang ditinggal mati
suamiku. Aku harus bekerja keras untuk mencari nafkah bagi hidup kelima
anakku.

Jika engkau memiliki tanggungan beban seperti itu, engkau akan mengetahui
bahwa selalu ada tetesan air walau itu di padang gurun sekalipun. Engkau
juga akan mengetahui jalan untuk menemukan tetesan itu. Jika hanya memeras
setetes air jeruk dari ampas yang engkau buat, bukanlah hal yang sulit
bagiku'.

Selalu ada tetesan setelah tetesan terakhir. Aku telah ratusan kali
mengalami jalan buntu untuk semua masalah serta kebutuhan yang keluargaku
perlukan.

Namun hingga saat ini aku selalu menerima tetes berkat untuk hidup
keluargaku. Aku percaya Tuhanku hidup dan aku percaya tetesan berkat-Nya
tidak pernah kering, walau mata jasmaniku melihat semuanya telah kering. Aku
punya alasan untuk menerima jalan keluar dari masalahku. Saat aku mencari,
aku menerimanya karena ada pribadi yang mengasihiku.

'Bila Anda memiliki alasan yang cukup kuat, Anda akan menemukan jalannya',
demikian kata seorang bijak.

Seringkali kita tak kuat melakukan sesuatu karena tak memiliki alasan yang
cukup kuat untuk menerima hal tersebut. (Bits & Pieces, The Economics Press)

sumber : Dharmajala milist

Bicara Pada Cermin

Ada tiga ungkapan yang saat ini sangat diyakini Rendi। Ungkapan pertama, waktu tak akan mundur ke belakang। Yang kedua: kesempatan tak akan pernah terulang. Dan yang ketiga?

“Gue nyesel. Nyesel banget!” Rendi menggerutu pada cermin di depannya. Wajahnya memelas, persis kucing yang lagi mengintai ikan bandeng di atas meja makan.

“Lu sih, dulunya suka nunda-nunda. Rasain sekarang!” lanjut Rendi, seolah-olah mewakili “suara” cermin di depannya.

“Hush, diam! Gue lagi mengadu, enggak minta nasehat!” Hampir saja tangan Rendi yang gempal meninju cermin yang sok tahu itu. “Gue nyesal! Nyesal seumur hidup!” teriaknya lebih keras lagi.

“Enggak usah diulang, gue udah tahu!” Si Cermin berlagak sewot, yang sebenarnya tak lain adalah suara Rendi sendiri, dalam nada yang berbeda.

“Rendi, kamu belum sarapan, ya?” sebuah teriakan terdengar dari luar, membuat Rendi gelagapan bukan main. Ternyata Mama berada di depan kamarnya.

“Rendi enggak lapar, Ma,” dia buru-buru mengenakan singlet.

“Tapi kamu harus sarapan dulu.”

“Entar aja, Ma, digabung sama makan siang.”

Bahkan selera makan Rendi pun nyaris hilang. Dan semua ini gara-gara Dini, cewek yang telah membuat Rendi menyakini ungkapan ketiga: sesal kemudian tiada guna. Nasi telah menjadi bubur. Dan Rendi sama sekali tidak doyan makan bubur.

Dini, gadis yang kos di rumahnya, telah menemani hari-harinya dalam setahun terakhir ini. Tapi kini, semuanya akan berakhir dengan perpisahan. Perpisahan yang tragis dan dramatis bagi Rendi, namun tidak bagi Dini. Sebab Rendi yakin, Dini akan menganggap perpisahan mereka biasa-biasa saja.

* * *

Awal dari semua ini adalah ketika setahun lalu Mama memutuskan untuk memanfaatkan beberapa kamar kosong di bagian belakang rumah mereka.

“Lebih baik kalau kamar-kamar itu kita sewakan. Daripada kosong, kan lebih baik ditempati mahasiswi.”

“Mahasiswi?” dahi Rendi berkerut. “Mama mau membuka kos untuk cewek? Kenapa tidak cowok saja, Ma?”

“Ah, Rendi. Kenapa kamu masih alergi sama wanita?”

“Gara-gara seorang wanita, Yanti meninggal….”

“Tiba saatnya kamu melupakan masa lalu, Rendi. Kenapa kamu masih saja menyalahkan dirimu sendiri?” suara Mama terdengar getir. Matanya menerawang, seperti menembus sebuah kenangan yang demikian akrab. “Sejak papamu meninggal dan Meylani pindah ke Yogya, Mama tidak punya lagi teman ngomong. Sementara kamu asyik sendirian dengan cermin yang enggak bisa ngomong itu.”

“Mama, sih, enggak bisa memahami perasaan Rendi,” sahut Rendi dengan cuek, seolah tak terpengaruh dengan kesenduan Mama. “Pokoknya Rendi enggak setuju kalau mahasiswi!”

“Rendi, dengarkan dulu. Cowok itu lebih sulit ngaturnya.”

“Cewek juga susah ngaturnya,” harga diri Rendi sebagai cowok sedikit terungkit. “Kita harus siap menerima tamu-tamu tak diundang setiap Malam Minggu.”

“Rendi, jangan membantah terus! Mulai sekarang kamu harus mencoba melupakan masa lalu, dengan cara bergaul dengan para mahasiswi yang akan tinggal di sini.”

“Masa lalu enggak akan bisa Rendi lupakan, Ma. Rendi memang salah, enggak mau menjemput Yanti waktu itu.”

Dada Rendi naik turun. Selama lima tahun terakhir ini ia selalu merasa serba salah. Dan itu membuatnya jadi seseorang yang tertutup, pendiam, dan suka melamun.

Sementara Mama geleng-geleng kepala menghadapi tingkah anaknya yarig keras kepala. Ia telah bertekad untuk menerima mahasiswi, bukan mahasiswa. Sudah lima tahun lebih Rendi mamutuskan untuk berhenti mengenal wanita. Dan sekarang, putra tercintanya itu harus mengenal mereka kembali. Ia teringat pada percakapannya dengan seorang psikolog beberapa bulan lalu.

“Sejak adiknya meninggal, Rendi suka bicara sendiri di dalam kamar, Dokter. Ia membeli sebuah cermin besar, dan pada cermin itulah ia mengadukan seluruh uneg-unegnya.”

“Barangkali anak Ibu memerlukan seseorang sebagai teman bicara,” Sang Psikolog berujar dengan penuh wibawa.

“Kalau menyangkut masalah pribadi, dia sangat tertutup.”

“Kalau boleh saya tahu, apa yang membuat anak Ibu bertingkah aneh begitu?”

“Sepertinya dia menyalahkan dirinya sendiri. Ketika SMA, Rendi punya seorang pacar, tapi saya lupa namanya. Yang jelas Rendi sangat sayang pada gadis itu. Suatu hari, saya menyuruh Rendi menjemput adiknya, Yanti, ke tempat kursus. Tapi dia tidak mau, karena sudah ada janji dengan pacarnya itu. Dan akibatnya, ah…,” Mama menahan isakan kecil di tenggorokannya.

“Kenapa, Ibu?” Sang Psikolog keheranan.

“Yanti terpaksa pulang dengan kendaraan umum, Dok. Dan kendaraan itu ditabrak oleh sebuah truk hingga remuk.”

“Dan anak Ibu?”

“Sejak saat itu, Rendi selalu menyalahkan dirinya sendiri, Dokter. Dia merasa telah membunuh adiknya. Dia juga tidak mau lagi mengenal wanita manapun, kecuali saya dan kakaknya, tentu saja. Dokter, apa yang harus saya perbuat? Saya tidak ingin anak saya terus-terusan berbicara pada cermin.”

“Sebuah masalah yang berat,” Sang Psikolog menarik napas yang juga berat. “Saya kira, Ibu perlu mengusahakan suatu cara agar anak Ibu bisa akrab kembali dengan lawan jenisnya.”

Maka Mama pun menyewakan bagian belakang rumah mereka untuk mahasiswi. Semula sikap Rendi cuek saja, bahkan cenderung antipati. Tapi semakin lama Mama perhatikan, Rendi mulai bisa akrab dengan mereka.

Dan Dini adalah satu dari enam orang cewek penghuni bagian belakang rumah itu. Dia hadir dengan segala kesahajaannya. Mengenalkan diri sebagai mahasiswi Fakultas Hukum semester satu, berasal dari Garut, lahir tahun 1974, dan suka makan batagor.

Mama menarik napas lega ketika melihat Rendi bisa akrab dengan Dini. Walau sebenarnya ia kurang menyukai Mojang Garut itu, terutama pada sifatnya yang terlalu manja.

* * *

“Kamu anak ke berapa?” tanya Rendi ketika suatu sore ia dan Dini berkesempatan duduk-duduk di teras depan.

“Bungsu dari empat bersaudara,” suara Dini terdengar sangat merdu di telinga Rendi.

“Apa sih yang membuat kamu memilih Bandung sebagai tempat kuliah?” Rendi berlagak jadi wartawan.

“Abis keterimanya di sini, sih.”

Rendi manggut-manggut. Semakin ia perhatikan, kok sepertinya ia telah mengenal Dini jauh sebelumnya. Dan tanpa sadar, mereka pun jadi akrab. Tekad dan janji Rendi selama lima tahun terakhir ini, seketika terlupakan begitu saja.

Kalau lagi nganggur, tanpa segan-segan Rendi mengantar Dini ke kampus dengan Honda Astrea-nya. Dini pun sering minta diantar ke Gramedia atau Palasari untuk membeli buku. Kalau Dini kembali dari mudik, oleh-oleh dodol Garut-nya selalu ia bagikan pada Rendi terlebih dahulu. Kalau Dini lagi ada masalah, selalu ia mengadu pada Rendi.

Mengingat semua itu, ada yang bergetar di dada Rendi. Memang mereka pernah berselisih, saling ngotot ketika diskusi, atau tidak ngomong selama dua hari. Rendi yang agak egois dan Dini yang manja serta keras kepala, memang cukup potensial untuk menimbulkan perselisihan. Namun secara umum mereka lumayan akrab.

“Dia mirip banget sama Yanti,” ungkap Rendi lagi di depan cermin kesayangannya. “Wajahnya, tingkahnya, kemanjaannya, tawanya, bahkan caranya berpakaian. Hei, Cermin; salah apa enggak, sih, kalau gue tertarik sama cewek yang mirip Yanti?”

“Salah sih enggak. Tapi lu udah melanggar tekad lu semula.”

“Tapi… tapi gue enggak bisa membendung perasaan yang menggebu-gebu. Setiap kali bersama Dini, gue seperti menemukan kembali adik gue, Yanti, yang meninggal gara-gara kesalahan gue. Ah, Cermin, apakah kamu tidak melihat bahwa mereka begitu mirip?”

“Cuma perasaan kamulah yang mengatakan mereka mirip.”

“Tapi sepertinya gue naksir dia.”

“Kalo gitu kenapa lu enggak bilang terus terang sama dia? Kayaknya dia juga naksir kamu, tuh.”

“Entahlah, Min, gue ragu. Gue takut banget masa lalu itu akan terulang lagi. Gue enggak bisa mengatakannya sama Dini. Gue dosa besar sama Yanti!”

Dan Rendi menunduk. Rambutnya diremas-remas. Ia memiliki banyak teman yang bisa dijadikan tempat mengadu. Tapi hanya pada cermin Rendi dapat mengungkapkan semua masalah. la ingin mengatakan pada dunia bahwa dia tertarik pada seorang gadis bernama Dini. Tapi teman-temannya telah terlanjur mengenal Rendi sebagai si Gunung Es.

* * *

Dan tibalah saat yang tidak mengenakkan itu. Awalnya adalah ketika suatu hari Rendi sedang duduk-duduk di teras depan. Tak lama kemudian ia melihat Dini dengan buru-buru turun dari atas sebuah becak. Langkah gadis itu sangat tergesa ketika melewati pintu depan, sehingga tas yang dipegangnya terjatuh.

Dengan sigap Rendi memungut tas itu. Tapi matanya kemudian terbelalak melihat judul sebuah buku di dalamnya.

“Kumpulan Soal-soal UMPTN. Lho, untuk apa buku ini, Din?”

“Mau tahu aja! Cepetan sini tasnya. Aku mau pergi lagi, nih. Tadi ada yang ketinggalan.”

“Lho, emangnya kamu mau ke mana?”

“Biasa, bimbingan tes.”

“Bimbingan tes?” Rendi terkesiap. “Kamu mau ikut UMPTN lagi?”

“Enggak ada waktu buat menjawab. Aku udah telat, nih.”

Bentakan itu membuat Rendi tersudut. Duh, kenapa Dini sampai berniat untuk ikut UMPTN lagi? Apakah dia tidak puas menjadi mahasiswi Fakultas Hukum Unpad yang beken itu? Kalau begitu, perguruan tinggi mana yang ingin diincarnya? Apakah itu masih di Bandung?

Seketika Rendi merasakan sesuatu yang aneh menjalari dadanya. Sebentuk perasaan yang membuatnya cemas, takut kehilangan Dini. Tanpa sadar, selama ini ia telah memelihara semacam harapan di dadanya. Dan harapan itu semakin subur ketika Rendi tahu bahwa Dini tidak pernah diapeli seorang cowok pun.

“Kenapa kamu pengen ikut UMPTN lagi?” Rendi berusaha mengintrogasi Dini ketika malam harinya mereka jalan-jalan ke Bandung Indah Plaza.

“Aku mau menembus Fakultas Ekonomi UI,” jawab Dini singkat.

“Kenapa? Bukankah sekarang….”

“Rendi, aku ingin kuliah di Jakarta. Dan itulah cita-citaku sejak SMA.”

“Tapi di Bandung kamu bisa melihat Gedung Sate setiap hari,” Rendi berusaha melucu untuk menetralisir perasaan gundahnya. “Kalau dari dulu kamu ingin ke Jakarta, kenapa kamu memilih Unpad?”

“ltu adalah pilihan keduaku. Dan aku sangat menyesal diterima di sini, tahu?”

Ah, dasar anak bungsu. Keras kepalanya enggak hilang-hilang, keluh Rendi dalam hati. Ia jadi ingat beberapa perselisihan mereka belakangan ini, akibat sama-sama keras kepala. Dan Dini selalu memberi ultimatum dengan ucapan, “Kamu enggak berhak mengatur aku, tahu?”

“Kayaknya kamu harus lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, deh,” sifat Rendi yang suka menggurui kumat lagi.

“Contohnya?” nada suara Dini menaik, karena dia memang paling anti digurui.

“Hanya orang-orang beruntung yang bisa lulus UMPTN, Din. Sementara yang gagal dan jumlahnya tentu puluhan ribu, hanya bisa gigit jari sambil mencari-cari iklan lowongan kerja atau PTS di koran-koran,” Rendi berusaha meyakinkan Dini.

“Lalu?”

“Ketika kamu lulus UMPTN, kamu telah mengecewakan puluhan ribu pesaing. Dan bila tahun depan kamu ikut lagi, jumlah mereka akan berlipat dua. Atau mungkin lebih, karena persaingan di UI tentu lebih besar.”

“Rendi, apakah aku harus berpikir sejauh itu?” nada suara Dini mulai terdengar menjengkelkan.

“Jelas, dong!” Rendi berlagak sok tahu.

“Kalau begitu, perlu kamu catet!” mata Dini mendelik. “Justru saat ini aku sedang mengutamakan kepentingan umum.”

“Kok bisa?”

“Sebab negara kita sedang giat melaksanakan pembangunan. Dalam segala hal, pembangunan ekonomi selalu diutamakan. Karena itu aku harus kuliah di Fakultas Ekonomi. Tapi ini enggak berhubungan dengan kamu yang juga kuliah di Fakultas Ekonomi. Ngerti?”

“Ber… berarti kamu akan meninggalkan Ban… Bandung?”

“Ka… kalau aku diterima di UI.” Huh, ngeledek!

Kenyataan itulah yang paling ditakutkan Rendi. Bagaimana seandainya impian Dini itu terwujud, dan mereka harus berpisah? Lalu bagaimana dengan hubungan mereka yang terlanjur akrab?

Dan hanya kepada cermin Rendi dapat mengadu.

“Gue enggak tahu, Cermin, apakah ini yang dinamakan cinta? Gue begitu percaya persahabatan kami akan berlangsung minimal tiga tahun. Sebab tiga tahun lagi mungkin gue udah lulus. Doakan ya, Cermin, biar gue cepat lulus, dan skripsi gue enggak terhambat. Eh, kira-kira apa judul yang tepat untuk skripsi gue?”

Dan kini, rasa takut itu semakin mendera perasaan Rendi. Terutama setiap kali melihat Dini berangkat bimbingan tes. Niat Dini untuk ikut UMPTN lagi dirasakan Rendi sebagai bom waktu yang akan meledak di saat perpisahan mereka.

Pada saat inilah dia begitu yakin pada tiga ungkapan di atas. Ketika perpisahan sudah di ambang pintu, barulah ia menyesali, kenapa dulunya ia suka menunda-nunda untuk mengatakan isi hatinya.

Jarak Jakarta-Bandung memang tidak begitu jauh. Surat atau telepon bisa menjadi pengganti tatap muka. Tapi berhadapan face to face secara langsung, tentu memiliki kesan yang berbeda. Ah, betapa menyakitkan sebuah perpisahan!

* * *

Surat dari Meylani, kakak Rendi yang tinggal di Yogya, datang ketika Rendi sedang menghadapi ujian semester. Ia menulis dua lembar. Yang selembar untuk Mama, antara lain berbunyi begini:

Ma, apakah Rendi masih suka bicara pada cermin? Apakah Mama masih terus berkonsultasi pada psikolog tentang kelakuan Rendi? Apakah Mama memberitahu Rendi tentang hal itu? Saya setuju sekali bila Rendi tidak diberitahu dulu. Seperti kata Mama, dia belum siap dan bisa tersinggung. Tampaknya Rendi memang masih lebih suka bicara pada cermin daripada dengan psikolog.

Dan lembar yang satunya ditujukan buat Rendi:

Ren, kalau ada libur panjang, main ke Yogya, dong!

* * *

Ketika libur semester tiba, dan para penghuni bagian belakang rumahnya pada pulang kampung, Rendi merasakan kesepian yang sangat mengganggu. Terlebih karena Dini pun pulang ke Garut. Rendi begitu yakin, tak akan ada lagi kesempatan untuk bertemu gadis manis itu. Bulan Juni lalu Dini telah mengikuti UMPTN, dan semester depan mungkin ia akan menjadi mahasiswi UI dan tinggal di Jakarta.

Selamat jalan, Dini. Semoga kamu tidak menyesal memilih Universitas Indonesia, Rendi meringis.

Maka berangkatlah Rendi ke Yogya. Ia ingin melupakan kekecewaannya dengan bersenang-senang sejenak di Kota Gudeg itu. Ia sudah kangen pada Aan dan Yuyun, keponakannya yang lucu-lucu. Ia sudah kangen pada Meylani dengan suaminya, Mas Agus.

Rendi ingin melupakan bahwa ia telah melakukan satu satu lagi kesalahan; ia akan segera kehilangan Dini. Ia tidak berhasil mencegah Dini untuk ikut UMPTN lagi. Dan seketika Rendi merasa, ia akan kehilangan lagi seorang “adik”. Ah, kenapa kejadiannya persis lima tahun silam?

Rendi sangat menikmati liburannya. Kalau boleh, ia ingin tinggal di Yogya selamanya, dan tidak pulang lagi ke Bandung. Berada di Bandung akan membuatnya teringat terus pada Dini. Ya, mungkin Rendi harus segera menjemput cermin kesayangannya, dan tinggal selamanya di Kota Gudeg yang ramah.

Tapi Meylani sangat tidak setuju dengan rencana adiknya itu.

“Bukannya aku enggak suka kamu tinggal di sini. Tapi bagaimana dengan kuliahmu? Kamu sudah menjelang dewasa, Rendi. Karena itu kamu harus mulai mengenal lagi seorang wanita,” Meylani menjelaskan dengan dahi ditekuk serius.

“Bagaimana kalau masa lalu itu terulang lagi?” Rendi menantang dengan suaranya yang lantang.

“Kamu selalu menyalahkan masa lalu! Tahukah kamu bahwa kamu sama sekali tidak pernah membunuh Yanti? Kamu menyesali takdir, Rendi. Dan sebagai lelaki kamu terlalu pengecut. Pulanglah ke Bandung untuk menjadi seorang lelaki dan bukan seorang ahli sejarah. Oh ya, dan berhentilah bicara pada cermin.”

Rendi diam. Ucapan Meylani membuatnya tertunduk, terutama karena ia dituduh sebagai lelaki pengecut. Sungguh sebuah tuduhan yang menyakitkan, namun sanggup membuat ia merenung selama satu setengah jam. Seandainya Sang Cermin ada bersamanya, mungkin ia sudah ngomong sendirian lagi.

* * *

Dengan perlahan, Rendi mengetuk pintu depan rumahnya. Ia berusaha menahan gejolak yang menggelegak di dadanya. Biarlah sebentar lagi Mama membukakan pintu, lalu mengabarkan sebuah berita, “Dini diterima di Fakultas Ekonomi UI, Rendi. Syukurlah, anak manja itu tidak tinggal di sini lagi.”

Tapi ketika pintu terbuka, Mama cuma tersenyum lebar dan berteriak seperti tidak bertemu anaknya selama dua puluh tahun.

“Wah, wajah kamu berkilat sekali, Rendi. Ayo, kamu harus segera mandi. Kemarin ada teman kamu yang nelpon, mau ngajak kamu ke Ciater. Eh, mana oleh-olehnya? Boneka dan mobil-mobilan yang Mama beli, sudah kamu berikan pada cucu-cucu Mama, kan?”

Rendi tidak bergairah menjawab pertanyaan Mama. Ia capek sekali. Ia ingin tidur, kalau boleh selamanya.

Tapi baru saja ia hendak melangkah menuju kamarnya, dari bagian belakang rumah itu muncul seorang gadis berlesung pipit. Ia melambaikan tangan pada Rendi.

“Hai, Gina. Kapan pulang dari Purwakarta? Mana oleh-olehnya?” sapa Rendi ramah.

“Tuh, di kamarku. Ayo ke sana, sekalian ngambil surat,” Gina menarik tangan Rendi.

“Surat?” Rendi bengong ketika sampai di depan kamar Gina.

“Iya. Kemarin Dini ke sini, dan menitip surat buat kamu.”

“Dini? Titip surat?” Ah, kenapa nama gadis itu masih harus terdengar di telingaku? Rendi mengeluh datam hati. Tapi ia penasaran juga. Kok tumben Dini masih di Bandung? Dan kenapa ia menulis surat untukku?

Dengan penasaran Rendi segera membaca surat itu.

Rendi, lagi-lagi ternyata aku harus mengakui kebenaran ucapan kamu. Dulu aku begitu yakin bisa diterima di UI. Tapi nyatanya, aku lagi-lagi harus “tercampak” di pilihan kedua; yaitu Fakultas Ekonomi Unpad.

Aku jadi heran, kenapa begitu sulit mencapai pilihan pertama dalam UMPTN. Ah Rendi, kini kita kuliah di fakultas yang sama, malah jurusannya juga sama. Jadi dengan terpaksa aku tetap tinggal di Bandung. Tapi aku sudah pindah alamat.

Aku jadi berpikir, Rendi, mungkin takdir tidak memperbolehkan kita untuk berpisah. Ada-ada saja, ya?

Seperti tak percaya, Rendi membaca lagi isi surat itu. Tidak, ini bukan mimpi. Rendi mencubit lengannya. Dan untuk lebih meyakinkan, lengan Gina pun dicubitnya. Tentu saja Gina menjerit.

“Gile, lu! Senang sih senang. Tapi jangan centil gitu, dong!”

Rendi tidak mendengar suara Gina yang sewot. Ia dilanda kebahagiaan yang menggebu-gebu. Ah, Dini! Aku sama sekali tidak menduga kemungkinan seperti ini. Sungguh! Dan itu sangat membahagiakanku. Tahukah kamu? Biarlah kamu tidak kos di sini lagi. Rumah ini memang kurang pantas untuk cewek secakep kamu. Yang penting, sekarang kita satu fakultas. Dan aku tak akan kehilangan kamu lagi.

Tanpa peduli pada Gina yang menatapnya dengan bengong, Rendi melonjak dengan noraknya. Mungkin saat ini dia adalah lelaki paling berbahagia di dunia. Ia akan mencari rumah kos Dini yang baru. Ia akan segera mengutarakan isi hatinya yang lama tersimpan. Ia akan berusaha agar gadis itu tidak ikut UMPTN lagi tahun depan. Ia akan membuktikan pada Meylani bahwa dia benar-benar seorang laki-laki dan bukan ahli sejarah. Ia akan segera berangkat ke alamat yang ditulis Dini di bagian bawah kertas itu.

Tapi… eit, tunggu! Mungkin lebih baik Rendi ke kamarnya dulu. Ia sudah rindu pada cermin kesayangannya, dan harus segera menceritakan kabar gembira ini. Cermin itu akan ia peluk dan ciumi dengan erat.

(Sayang sekali, ketika nanti Rendi memasuki kamarnya, cermin itu sudah tidak di tempatnya lagi. Sebab beberapa hari lalu, Mama telah memecahkan cermin itu. Dan ia tak akan mengizinkan lagi Rendi membeli yang baru).

Atas anjuran Sang Psikolog।) (*)


Keterangan:
Cerpen ini adalah pemenang pertama pada Lomba Cipta Cerpen Remaja Tahun 1994 yang diadakan oleh majalah Anita Cemerlang.