<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7155520434868400626</id><updated>2012-02-17T12:29:01.900+09:00</updated><title type='text'>"Budak Bogor"</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tompoh.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7155520434868400626/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tompoh.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Budak Bogor</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10357562476023582944</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/SjcavHa1CnI/AAAAAAAAAAM/CcC3ic3_sRQ/S220/indonesia+.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7155520434868400626.post-6888334891612503486</id><published>2010-04-14T22:06:00.002+09:00</published><updated>2010-04-14T22:15:14.228+09:00</updated><title type='text'>"Clara Harus Bugil Agar Joshua Bebas Guna-guna"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/S8W_1GIlMcI/AAAAAAAAAC8/VCEFTW--AfI/s1600/Clara+Adelin+Supit.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 206px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/S8W_1GIlMcI/AAAAAAAAAC8/VCEFTW--AfI/s320/Clara+Adelin+Supit.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5459981042157171138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BOGOR, KOMPAS.com&lt;/span&gt; - Seorang mahasiswi universitas swasta di Bogor, Clara Adelin Supit alias Devi (23) nekad berfoto bugil untuk menolong temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasat Reskrim Polresta Bogor, AKP Irwansyah menyebutkan, dalam laporan Clara ke Mapolresta Bogor pada Sabtu lalu ia mau di foto telanjang untuk membantu temanya Misly Safarini (23), warga Citeureup Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kata dia (Clara-red) foto itu atas permintaan temannya Misly yang minta tolong untuk menyebuhkan mantan pacarnya yang diguna-guna," ujar Irwansyah, Minggu (11/4/2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan laporan dari Clara, Irwansyah menjelaskan kronologi hingga foto syur Clara beredar di dunia maya dan akun jejaring pertemanan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan yang diperoleh, pengambilan gambar Clara tanpa busana dengan menggunakan telepon genggam dilakukan disebuah kamar kos di kawasan Kebon Jeruk Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Clara bersedia di foto karena dirayu temannya Misly. Kepada korban, Misly mengatakan, mantan cowoknya Joshua (26), terkena penyakit guna-guna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Misly, Joshua baru bisa sembuh jika melihat foto bugil cewek cantik. Karena termakan rayuan, dan tak tega lihat temannya yang memohon, gadis cantik, kapten pemandu sorak itu rela berpose bugil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai berfoto bugil, Clara diberi sejumlah uang oleh Misly. Clara berpesan agar Misly tidak menyebarkan foto dirinya kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapati fotonya tersebar di dunia maya, Clara pun melaporkan peristiwa tersebut ke Polresta Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pelapor merasa dirinya menjadi korban dan minta temannya mempertanggungjawabkan perbuatan, karena membuat ia dan keluarganya malu dan terhina," ujar Irwansyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyebutkan, atas laporan korban, aparat Polresta telah meminta keterangan Misly yang mengakui foto tersebut milik Clara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari pengakuan Misly, gambar tersebut dia berikan ke mantan pacarnya Joshua. Dan yang menyebarkan foto kemungkinan Joshua," ujar Irwansyah mengutip pengakuan Misly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasat Reskrim Polresta Bogor, AKP Irwansyah mengungkapkan, sudah ada keterangan tiga saksi. Hingga saat ini, petugas belum menetapkan tersangkanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joshua yang diduga sebagai&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; pelaku penyebaran gambar tanpa busana ini baru akan dimintai keterangan Senin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto syur Clara, menurut Kasat Irwansyah, terakses di akun jejaring pertemanan clara.supit@yahoo.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Banyak foto telanjang korban. Paling banyak itu menghadap kedepan. Makanya semua yang terlarang terlihat semua," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Irwansyah, pelaku penyebaran gambar telanjang, akan dikenakan pasal UU IT Nomor 11 tahun 2008 pasal 27 ayat 1 dan 3 tentang seseorang dengan sengaja menyebarkan asusila atau penghinaan, maka akan diancam penjara 6 tahun atau denda Rp 1 miliar.&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEMOGA PARA PEMBACA BISA AMBIL HIKMAHNYA DARI KEJADIAN YANG MENIMPA CLARA&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7155520434868400626-6888334891612503486?l=tompoh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tompoh.blogspot.com/feeds/6888334891612503486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tompoh.blogspot.com/2010/04/clara-harus-bugil-agar-joshua-bebas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7155520434868400626/posts/default/6888334891612503486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7155520434868400626/posts/default/6888334891612503486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tompoh.blogspot.com/2010/04/clara-harus-bugil-agar-joshua-bebas.html' title='&quot;Clara Harus Bugil Agar Joshua Bebas Guna-guna&quot;'/><author><name>Budak Bogor</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10357562476023582944</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/SjcavHa1CnI/AAAAAAAAAAM/CcC3ic3_sRQ/S220/indonesia+.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/S8W_1GIlMcI/AAAAAAAAAC8/VCEFTW--AfI/s72-c/Clara+Adelin+Supit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7155520434868400626.post-9007988194514423585</id><published>2010-01-02T21:13:00.003+09:00</published><updated>2010-01-02T21:17:16.527+09:00</updated><title type='text'>HAPPY NEW YEAR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/Sz84x6jvsnI/AAAAAAAAAC0/e3p6M1PVugI/s1600-h/new-year-2010-fireworks-thumb5943912.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 216px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/Sz84x6jvsnI/AAAAAAAAAC0/e3p6M1PVugI/s320/new-year-2010-fireworks-thumb5943912.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422114906561294962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Impian Sejati......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, ada seorang muda yang bertemu dengan seorang tua yang bijaksana. Si anak muda bertanya, “Pak, sebagai seorang yang sudah kenyang dengan pengalaman tentunya anda bisa menjawab semua pertanyaan saya”.&lt;br /&gt;“Apa yang ingin kau ketahui anak muda ?” tanya si orang tua.&lt;br /&gt;“Saya ingin tahu, apa sebenarnya yang dinamakan impian sejati di dunia ini”. Jawab si anak muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua itu tidak menjawab pertanyaan si anak, tapi mengajaknya berjalan-jalan di tepi pantai. Sampai di suatu sisi, kemudian mereka berjalan menuju ke tengah laut. Setelah sampai agak ke tengah di tempat yang lumayan dalam, orang tua itu dengan tiba-tiba mendorong kepada si anak muda ke dalam air.&lt;br /&gt;Anak muda itu meronta-2, tapi orang tua itu tidak melepaskan pegangannya. Sampai kemudian anak muda itu dengan sekuat tenaga mendorong keatas, dan bisa lepas dari cekalan orang tua tersebut.&lt;br /&gt;“Hai, apa yang barusan bapak lakukan, bapak bisa membunuh saya” tegur si anak muda kepada orang bijak tersebut. Orang tua tersebut tidak menjawab pertanyaan si anak, malah balik bertanya ,”Apa yang paling kau inginkan saat kamu berada di dalam air tadi ?”.&lt;br /&gt;“Udara, yang paling saya inginkan adalah udara”. Jawab si anak muda.&lt;br /&gt;“Hmmm, bagaimana kalo saya tawarkan hal yang lain sebagai pengganti udara, misalnya emas, permata, kekayaaan, atau umur panjang ?”tanya si orang tua itu lagi.&lt;br /&gt;“Tidak ….. tidak …… tidak ada yang bisa menggantikan udara. Walaupun seisi dunia ini diberikan kepada saya, tidak ada yang bisa menggantikan udara ketika saya berada di dalam air” jelas si anak muda.&lt;br /&gt;“Nah, kamu sudah menjawab pertanyaanmu sendiri kalau begitu. KALAU KAMU MENGINGINKAN SESUATU SEBESAR KEINGINANMU AKAN UDARA KETIKA KAMU BERADA DI DALAM AIR, ITULAH IMPIAN SEJATI” kata si orang tua dengan bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah anda saat ini mempunyai impian sejati ? Banyak orang yang mengatakan impian mereka ini, atau itu, tapi sebagian besar yang mereka sebutkan adalah keinginan belaka, bukan impian. Keinginan sifatnya tidak mendesak. Kalo bisa dapat syukur, nggak dapat juga tidak apa-apa. Kalo bisa mobil BMW, kalo nggak, Kijang juga gak apa-2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula orang yang mempersepsikan impian dengan harapan. Keduanya mirip namun berbeda. Harapan lebih kepada sesuatu di masa depan yang terjadi dengan sendirinya atau atas hasil kerja orang lain. Campur tangan kita kecil sekali, atau bahkan tidak ada. Impian tidak seperti itu. Apapun yang terjadi, mau tidak mau, dengan perjuangan sekeras apapun impian itu HARUS tercapai.&lt;br /&gt;Impian terbaik seorang manusia adalah ketika dia berusia dibawah lima tahun. “Saya mau jadi dokter, mau jadi pilot, mau jadi pengusaha, dll ……” bukankah itu yang kerap dikatakan oleh anak-anak anda ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, begitu mereka menginjakkan kaki di bangku sekolah, mereka `diharamkan’ membuat kesalahan. Selain itu, mereka juga mulai diajarkan melihat realitas dunia – dari sisi yang negatif.&lt;br /&gt;Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika, seorang remaja hingga dia berusia 20 tahun, rata-rata akan menerima 20.000 macam kata “NO”. “Jangan nakal, jangan main air, jangan kesana,jangan malas, jangan pergi, dan ribuan kata jangan yang lain. Memang tujuannya baik karena mengajarkan kepada kita agar dapat hidup dengan baik. Tapi karena terlampau seringnya kata “NO’ itu diterima, akan mempengaruhi pula alam bawah sadar manusia. Sehingga setiap kali kita memikirkan sesuatu yang baru, misalnya impian, yang pertama kali terlintas di benak kita adalah kata “NO”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak juga orang saat ini apabila ditanya apa impiannya, mereka menjawab tidak tahu. Sungguh malang nasib orang tersebut, karena orang yang tidak mempunyai impian sebetulnya secara mental mereka sudah `mati’. Mungkin orang-2 tersebut menganggap hidup adalah suatu nasib, sehingga sekeras apapun mereka bekerja&lt;br /&gt;atau setinggi apapun impian mereka, namun apabila nasib tidak menghendaki mereka sukses, mereka tidak akan sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau ada pula type orang yang terjebak di dalam `comfort zone’, dimana kehidupan mereka saat ini sudah nyaman, atau setidaknya berkecukupan. Mereka merasa tidak perlu membuat suatu impian yang lebih besar. Mereka mungkin akan berkata “Ah, buat apa rumah besar-besar …. Bisa ngontrak aja sudah bagus ……”.&lt;br /&gt;Type ketiga, ada orang yang SENGAJA tidak mau membuat impian, karena ……. malu jika ditertawakan orang lain, dianggap norak, nggak tau diri, atau bahkan gila. Nah, sebenarnya bukan anda yang norak, tapi karena hidup kita sudah terlalu penuh dikelilingi oleh orang-orang dengan pikiran negatif, dimana mereka akan merasa `tidak suka’ jika ada seseorang yang tadinya setingkat dengan mereka, lalu mau pergi ke tingkat yang lebih tinggi. Mereka akan berusaha dengan ejekan, sindiran dan usaha-usaha lain agar anda tetap `selevel’ dengan mereka. Kalau anda ingin membuktikan, coba besok pagi di kantor, katakan kepada rekan-2 anda , “Saya punya impian untuk jadi orang sukses. Saya akan berusaha keras mencapainya, untuk membawa saya dan keluarga saya ke tingkat yang lebih baik”. Lalu coba lihat ….. berapa banyak yang mentertawakan anda ….. Dan coba lihat pula berapa orang yang mendukung anda. Mungkin hampir tidak ada yang mendukung anda. Masih maukah anda meraih impian tersebut ….. setelah anda ditertawakan ….?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat, saya yakin kita saat ini masih mampu menciptakan impian-2 kita, asalkan kita mau menghilangkan segala penghalang di dalam benak kita. Cobalah untuk berpikir bebas, seperti anak berusia 5 tahun. Jangan hiraukan apa yang dikatakan orang tentang impian anda, tapi berusahalah agar impian itu tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar, kita tidak akan bisa mencapai semua impian kita. Tapi tanpa punya impian, anda tidak akan meraih apa-apa. Ciptakan impian, lakukan kerjanya, dan raih hasilnya !&lt;br /&gt;Semoga sukses ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEMOGA APA YANG KITA IMPIKAN DAN TIDAK TERLAKSANA DI TAHUN 2009 MUDAH-MUDAHAN DAPAT TERLAKSANA DI TAHUN2010...............&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7155520434868400626-9007988194514423585?l=tompoh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tompoh.blogspot.com/feeds/9007988194514423585/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tompoh.blogspot.com/2010/01/happy-new-year.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7155520434868400626/posts/default/9007988194514423585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7155520434868400626/posts/default/9007988194514423585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tompoh.blogspot.com/2010/01/happy-new-year.html' title='HAPPY NEW YEAR'/><author><name>Budak Bogor</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10357562476023582944</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/SjcavHa1CnI/AAAAAAAAAAM/CcC3ic3_sRQ/S220/indonesia+.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/Sz84x6jvsnI/AAAAAAAAAC0/e3p6M1PVugI/s72-c/new-year-2010-fireworks-thumb5943912.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7155520434868400626.post-1695966653411501932</id><published>2009-11-28T11:24:00.002+09:00</published><updated>2009-11-28T11:31:56.720+09:00</updated><title type='text'>Bogor In My Birthday...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/SxCLktPUF5I/AAAAAAAAACs/xSCzVxMjeZk/s1600/happy-birthday.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/SxCLktPUF5I/AAAAAAAAACs/xSCzVxMjeZk/s320/happy-birthday.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5408976615207344018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Datang sudah hari ini, 29 NOvember 2009&lt;br /&gt;Hari dimana dulu aku dilahirkan&lt;br /&gt;Hari dimana orang tertawa sekaligus haru&lt;br /&gt;Menjelang perkenalanku dengan dunia ini&lt;br /&gt;Hari ini aku mengenang kembali&lt;br /&gt;Kerikil-kerikil tajam yang memperkaya arti hidupku&lt;br /&gt;Manisnya madu cerita hidup yang membuat senyumku lepas…&lt;br /&gt;Tapi apa yang telah aku berikan&lt;br /&gt;Untuk orang – orang yang tertawa sekaligus haru&lt;br /&gt;Menjelang kelahiranku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hari ini genap sudah umurku 23 thn&lt;br /&gt;Apa yang telah kuberikan untuk&lt;br /&gt;Agamaku untuk tuhanku untuk kedua orang tuaku&lt;br /&gt;Untuk sahabatku yang rela berkorban untukku&lt;br /&gt;Hari hari lewat, pelan tapi pasti&lt;br /&gt;Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru&lt;br /&gt;Karena aku akan membuka lembaran baru&lt;br /&gt;Untuk sisa jatah umurku yang baru…&lt;br /&gt;Apa yang yang harus ku persiapkan untuk&lt;br /&gt;masa depanku, untuk akhirat ku, untuk&lt;br /&gt;kedua orang yang mencintaiku dan untuk&lt;br /&gt;tuhanku&lt;br /&gt;Tapi… coba aku tengok kebelakang&lt;br /&gt;Ternyata aku masih banyak berhutang&lt;br /&gt;Ya, berhutang pada diriku…&lt;br /&gt;Karena ibadahku masih pas-pasan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Happy Birthday To Me..... Bogor 29/11/09....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7155520434868400626-1695966653411501932?l=tompoh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tompoh.blogspot.com/feeds/1695966653411501932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tompoh.blogspot.com/2009/11/bogor-in-my-birthday.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7155520434868400626/posts/default/1695966653411501932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7155520434868400626/posts/default/1695966653411501932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tompoh.blogspot.com/2009/11/bogor-in-my-birthday.html' title='Bogor In My Birthday...'/><author><name>Budak Bogor</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10357562476023582944</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/SjcavHa1CnI/AAAAAAAAAAM/CcC3ic3_sRQ/S220/indonesia+.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/SxCLktPUF5I/AAAAAAAAACs/xSCzVxMjeZk/s72-c/happy-birthday.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7155520434868400626.post-4738692353091465602</id><published>2009-09-02T18:05:00.000+09:00</published><updated>2009-09-02T18:08:08.409+09:00</updated><title type='text'>Gempa Guncang Pulau Jawa</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pusat Gempa di Tasikmalaya, Kekuatan 7,3 SR Hancurkan Beberapa Bangunan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, CyberNews. Gempa bumi dengan kekuatan 'cukup besar' baru saja terjadi dan dirasakan oleh warga masyarakat di sejumlah tempat di pulau Jawa.  Di Jakarta, gempa berkekuatan 7,3 skala richter mengguncang warga ibukota. Menurut Badan Metereologi dan Geofisika Amerika (USGS) pusat gempa berada di Tasikmalaya. Menurut catatan USGS, guncangan gempa sempat terjadi 32 kali. Guncangan gempa ini membuat sejumlah warga panik dan berlari keluar rumah, pada Rabu (2/9) pukul 14.55. Sejumlah jaringan telpon mati, dan menurut laporan beberapa kaca bangunan gedung bertingkat di Jakarta pecah, ini terjadi di Hotel Atlet Century, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di Tasikmalaya, warga sempat berteriak-teriak dan panik serta menyebutkan nama lafad Allah sejumlah warga yang mengendarai kendaraan sejenak terdiam. Warga yang berada di pasar Pancasila Kota Tasikmalaya warga yang sedang berkatifitas di pasar semua keluar dan menyebutkan nama Allah. Sementara getaran yang sangat kuat berlangsung sekitar lima menit. Menurut laporan di lapangan beberapa bangunan di kota Ciamis roboh karena guncangan gempa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa juga dirasakan di kota Bandung, Jawa Barat; Kota Tangerang Selatan bagian Selatan bahkan di kantor Redaksi Suara Merdeka CyberNews Semarang, Jawa Tengah beberapa staf dan karyawan yang ada kantor Jl. Pandanaran sempat merasakan guncangan gempa selama beberapa menit dengan getaran yang cukup dapat dirasakan selama beberapa saat. Menurut beberapa staf, mereka sempat merasakan meja dan kursi di ruang kerja mereka bergoyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut USGS pusat gempa berada di 142 km arah Barat Daya kota Tasikmalaya dengan kedalaman 37,3 mil di bawah permukaan tanah di daerah Tasikmalaya, dan gempa ini diperkirakan berpotensi tsunami.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7155520434868400626-4738692353091465602?l=tompoh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tompoh.blogspot.com/feeds/4738692353091465602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tompoh.blogspot.com/2009/09/gempa-guncang-pulau-jawa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7155520434868400626/posts/default/4738692353091465602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7155520434868400626/posts/default/4738692353091465602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tompoh.blogspot.com/2009/09/gempa-guncang-pulau-jawa.html' title='Gempa Guncang Pulau Jawa'/><author><name>Budak Bogor</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10357562476023582944</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/SjcavHa1CnI/AAAAAAAAAAM/CcC3ic3_sRQ/S220/indonesia+.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7155520434868400626.post-8832654860553419899</id><published>2009-07-31T17:46:00.003+09:00</published><updated>2009-07-31T18:01:21.269+09:00</updated><title type='text'>17 Agustus....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/SnKv3YSLJtI/AAAAAAAAACU/IoVdVVw3G7A/s1600-h/64.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 298px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/SnKv3YSLJtI/AAAAAAAAACU/IoVdVVw3G7A/s320/64.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5364543472098027218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;         Wah sebentar lagi 17 Agustus ni pasti suma dah pada tau ada apa dengan 17 Agustus..?&lt;br /&gt;yups 17 agustus adalah Hari kerdekaan Negara Kita Tercinta yaitu Indonesia.... ya untuk sekedar memperingati hari kemerdekaan atau mengingat jasa para pahlawan kita yang gigih berperang melawan pejajahan......Nah ada lagu ni yang cocok buat kita-kita semua sebagai generasi muda.... supaya jangan loyo aja yooooo semangat........Demi Memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Atau meneruskan hasil perjuangan pahlawan kita...&lt;br /&gt;lirik lagu ini saya ambil dari lagunya Bang Iwan... coba kalin simak apalagi denger lagunya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0);"&gt;&lt;strong&gt;Bangunlah Putra Putri Pertiwi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinar matamu tajam namun ragu&lt;br /&gt;Kokoh sayapmu semua tahu&lt;br /&gt;Tegap tubuhmu tak kan tergoyahkan&lt;br /&gt;Kuat jarimu kala mencengkeram&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermacam suku yang berbeda&lt;br /&gt;Bersatu dalam cengkerammu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin genit mengelus merah putihku&lt;br /&gt;Yang berkibar sedikit malu malu&lt;br /&gt;Merah membara tertanam wibawa&lt;br /&gt;Putihmu suci penuh karisma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau pulau yang berbencar&lt;br /&gt;Bersatu dalam kibarmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbanglah garudaku&lt;br /&gt;Singkirkan kutu kutu di sayapmu&lt;br /&gt;Berkibarlah benderaku&lt;br /&gt;Singkirkan benalu di tiangmu&lt;br /&gt;Hei jangan ragu dan jangan malu&lt;br /&gt;Tunjukkan pada dunia&lt;br /&gt;Bahwa sebenarnya kita mampu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari pagi sudah membumbung tinggi&lt;br /&gt;Bangunlah putra putri ibu pertiwi&lt;br /&gt;Mari mandi dan gosok gigi&lt;br /&gt;Setelah itu kita berjanji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi pagi esok hari atau lusa nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garuda bukan burung perkutut&lt;br /&gt;Sang saka bukan sandang pembalut&lt;br /&gt;Dan coba kau dengarkan pancasila itu&lt;br /&gt;Bukanlah rumus kode buntut&lt;br /&gt;Yang hanya berisi harapan&lt;br /&gt;Yang hanya berisi khayalan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yups.... semangat semuanya buat Putra-Putri Indonesia Jangan Loyo.. N Say No To Drug.. N makasih Buat Bang Iwan atas ciptaan lagunya.....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7155520434868400626-8832654860553419899?l=tompoh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tompoh.blogspot.com/feeds/8832654860553419899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tompoh.blogspot.com/2009/07/17-agustus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7155520434868400626/posts/default/8832654860553419899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7155520434868400626/posts/default/8832654860553419899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tompoh.blogspot.com/2009/07/17-agustus.html' title='17 Agustus....'/><author><name>Budak Bogor</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10357562476023582944</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/SjcavHa1CnI/AAAAAAAAAAM/CcC3ic3_sRQ/S220/indonesia+.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/SnKv3YSLJtI/AAAAAAAAACU/IoVdVVw3G7A/s72-c/64.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7155520434868400626.post-5389525655839107158</id><published>2009-07-21T11:38:00.002+09:00</published><updated>2009-07-21T11:43:29.719+09:00</updated><title type='text'>Bom di Ritz Carlton &amp; JW Marriott</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/SmUqoWTW4gI/AAAAAAAAACM/_lwp9KMjhdA/s1600-h/Bom-dalam.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 285px; height: 285px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/SmUqoWTW4gI/AAAAAAAAACM/_lwp9KMjhdA/s320/Bom-dalam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5360737804124348930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="judul"&gt;Sebelum Ubah Target, Pelaku Bom Diduga Targetkan Pemain MU&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;      Jakarta&lt;/strong&gt; - Saat menyewa kamar 1808 hotel Marriott, pelaku bom membayar deposit sebesar US$ 1.400. Pelaku bom menyewa kamar sejak 15 Juli 2009. Kemungkinan besar, pelaku ingin menjadikan para pemain Manchester United (MU) sebagai target. Namun, targetnya diubah ketika melihat ada jadwal pertemuan para pengusaha internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 17 Juli 2009, beberapa jam setelah ledakan bom, tersiar informasi bahwa pelaku bom sudah berada di kamar 1808 selama seminggu. Namun, informasi yang lebih valid disampaikan Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri, para pelaku bom sebenarnya baru menginap di hotel bintang lima itu pada 15 Juli 2009, dua hari sebelum ledakan bom terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi ini kemudian berkembang. Sumber-sumber di Marriott membenarkan bahwa pelaku menyewa kamar 1808 pada 15 Juli 2009 dengan membayar deposit US$ 1.400.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka berencana menginap selama seminggu dengan membayar deposit US$ 1.400," kata sumber detikcom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaku menggunakan nama Nurdin Aziz dengan bukti diri KTP yang dikeluarkan Kelurahan Pondok Pinang, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan rencana menginap selama seminggu, sangat mungkin mereka menjadikan pemain MU sebagai target bom. Rencananya, pemain MU akan menginap di Hotel Ritz Carlton yang terletak bersebelahan dengan Marriott pada 18 Juli 2009. Para pemain MU akan berada di hotel itu hingga 21 Juli 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan melihat masa sewa kamar, sangat mungkin para pelaku ingin menargetkan ledakan bom untuk para pemain MU. Mereka berada di Marriott sejak 15 Juli untuk melakukan survei-survei terlebih dulu, termasuk mencari tahu terowongan bawah tanah yang menghubungkan Marriott dengan Ritz Carlton," kata sumber itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa para pelaku tidak menginap di Ritz Carlton saja? Kamar-kamar di hotel Ritz Carlton kabarnya sudah dikosongkan sejak jauh-jauh hari. Ini bagian sterilisasi Ritz Carlton sebelum para pemain MU datang. Lagi pula, pengamanan di Ritz Carlton sudah sangat ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sepertinya para pelaku bom mengubah target di tengah jalan. Baru menginap selama dua hari, pelaku bom  diduga mempercepat ledakan bom setelah mengetahui ada agenda CEO Meeting di JW Lounge. CEO Meeting bertajuk Indonesia Country Program (ICP) itu dihadiri para CEO, direktur, dan manajer dari perusahaan-perusahaan asing ternama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin melihat pertemuan yang dihadiri banyak pengusaha penting itu, para pelaku mengubah targetnya. Apalagi di acara itu hadir para pengusaha dari Amerika dan Australia," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, cerita ini bukan satu-satunya informasi yang muncul. Informasi yang beredar lainnya, para pelaku bom sebenarnya memang ingin menjadikan pemain MU sebagai target. Namun, pelaku hanya bisa menyewa kamar 1808 selama tiga hari, yaitu tanggal 15, 16, dan 17 Juli 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena kamar di Marriott hanya kosong untuk tiga hari, maka pelaku bom bisa saja mengubah targetnya pada 17 Juli 2009. Untuk long weekend semua kamar sudah penuh," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi ini bisa jadi benar. Karena  untuk long weekend, apalagi ada event kunjungan MU ke Indonesia, peminat kamar di Marriott membludak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, cerita-cerita yang disampaikan sumber-sumber ini belum tentu benar. Informasi ini juga belum terkonfirmasi oleh polisi. Aparat kepolisian masih menyembunyikan hasil penyelidikannya dan baru akan membeberkan hasil investigasinya setelah semua selesai dan benar-benar jelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai pelaku peledakan, polisi juga mau belum mau membuka informasi lebih lebar, meski Kapolri sempat menyebut inisial N. Namun, informasi yang berkembang luas, N yang dimaksud adalah Nurdin Aziz alias Nur Sahid alias Nur Said alias Nur Hasbi, seseorang yang diduga anggota jaringan Noordin M Top.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://www.detiknews.com"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 102, 102); font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;www.detiknews.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7155520434868400626-5389525655839107158?l=tompoh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tompoh.blogspot.com/feeds/5389525655839107158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tompoh.blogspot.com/2009/07/bom-di-ritz-carlton-jw-marriott.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7155520434868400626/posts/default/5389525655839107158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7155520434868400626/posts/default/5389525655839107158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tompoh.blogspot.com/2009/07/bom-di-ritz-carlton-jw-marriott.html' title='Bom di Ritz Carlton &amp; JW Marriott'/><author><name>Budak Bogor</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10357562476023582944</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/SjcavHa1CnI/AAAAAAAAAAM/CcC3ic3_sRQ/S220/indonesia+.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/SmUqoWTW4gI/AAAAAAAAACM/_lwp9KMjhdA/s72-c/Bom-dalam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7155520434868400626.post-6279870459262277370</id><published>2009-06-16T19:02:00.001+09:00</published><updated>2009-06-18T17:09:12.163+09:00</updated><title type='text'>Ada Tetesan SetelahTetesan Terakhir</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pasar malam dibuka di sebuah kota . Penduduk menyambutnya dengan gembira.&lt;br /&gt;Berbagai macam permainan, stand makanan dan pertunjukan diadakan. Salah satu&lt;br /&gt;yang paling istimewa adalah atraksi manusia kuat.&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Begitu banyak orang setiap malam menyaksikan unjuk kekuatan otot manusia&lt;br /&gt;kuat ini.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Manusia kuat ini mampu melengkungkan baja tebal hanya dengan tangan&lt;br /&gt;telanjang. Tinjunya dapat menghancurkan batu bata tebal hingga&lt;br /&gt;berkeping-keping.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ia mengalahkan semua pria di kota itu dalam lomba panco. Namun setiap kali&lt;br /&gt;menutup pertunjukkannya ia hanya memeras sebuah jeruk dengan genggamannya.&lt;br /&gt;Ia memeras jeruk tersebut hingga ke tetes terakhir.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;'Hingga tetes terakhir', pikirnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Manusia kuat lalu menantang para penonton: 'Hadiah yang besar kami sediakan&lt;br /&gt;kepada barang siapa yang bisa memeras hingga keluar satu tetes saja air&lt;br /&gt;jeruk dari buah jeruk ini!'&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kemudian naiklah seorang lelaki, seorang yang atletis, ke atas panggung.&lt;br /&gt;Tangannya kekar. Ia memeras dan memeras. dan menekan sisa jeruk. tapi tak&lt;br /&gt;setetespun air jeruk keluar. Sepertinya seluruh isi jeruk itu sudah terperas&lt;br /&gt;habis. Ia gagal. Beberapa pria kuat lainnya turut mencoba, tapi tak ada yang&lt;br /&gt;berhasil. Manusia kuat itu tersenyum-senyum sambil berkata : 'Aku berikan&lt;br /&gt;satu kesempatan terakhir, siapa yang mau mencoba?'&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seorang wanita kurus setengah baya mengacungkan tangan dan meminta agar ia&lt;br /&gt;boleh mencoba. 'Tentu saja boleh nyonya. Mari naik ke panggung.' Walau&lt;br /&gt;dibayangi kegelian di hatinya, manusia kuat itu membimbing wanita itu naik&lt;br /&gt;ke atas pentas. Beberapa orang tergelak-gelak mengolok-olok wanita itu. Pria&lt;br /&gt;kuat lainnya saja gagal meneteskan setetes air dari potongan jeruk itu&lt;br /&gt;apalagi ibu kurus tua ini. Itulah yang ada di pikiran penonton.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Wanita itu lalu mengambil jeruk dan menggenggamnya. Semakin banyak penonton&lt;br /&gt;yang menertawakannya. Lalu wanita itu mencoba memegang sisa jeruk itu dengan&lt;br /&gt;penuh konsentrasi. Ia memegang sebelah pinggirnya, mengarahkan ampas jeruk&lt;br /&gt;ke arah tengah, demikian terus ia ulangi dengan sisi jeruk yang lain. Ia&lt;br /&gt;terus menekan serta memijit jeruk itu, hingga akhirnya memeras. dan 'ting!'&lt;br /&gt;setetes air jeruk muncul terperas dan jatuh di atas meja panggung.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Penonton terdiam terperangah. Lalu cemoohan segera berubah menjadi tepuk&lt;br /&gt;tangan riuh.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Manusia kuat lalu memeluk wanita kurus itu, katanya, 'Nyonya, aku sudah&lt;br /&gt;melakukan pertunjukkan semacam ini ratusan kali. Dan, banyak orang pernah&lt;br /&gt;mencobanya agar bisa membawa pulang hadiah uang yang aku tawarkan, tapi&lt;br /&gt;mereka semua gagal. Hanya Anda satu-satunya yang berhasil memenangkan hadiah&lt;br /&gt;itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Boleh aku tahu, bagaimana Anda bisa melakukan hal itu?'&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;'Begini,' jawab wanita itu, 'Aku adalah seorang janda yang ditinggal mati&lt;br /&gt;suamiku. Aku harus bekerja keras untuk mencari nafkah bagi hidup kelima&lt;br /&gt;anakku.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika engkau memiliki tanggungan beban seperti itu, engkau akan mengetahui&lt;br /&gt;bahwa selalu ada tetesan air walau itu di padang gurun sekalipun. Engkau&lt;br /&gt;juga akan mengetahui jalan untuk menemukan tetesan itu. Jika hanya memeras&lt;br /&gt;setetes air jeruk dari ampas yang engkau buat, bukanlah hal yang sulit&lt;br /&gt;bagiku'.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selalu ada tetesan setelah tetesan terakhir. Aku telah ratusan kali&lt;br /&gt;mengalami jalan buntu untuk semua masalah serta kebutuhan yang keluargaku&lt;br /&gt;perlukan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun hingga saat ini aku selalu menerima tetes berkat untuk hidup&lt;br /&gt;keluargaku. Aku percaya Tuhanku hidup dan aku percaya tetesan berkat-Nya&lt;br /&gt;tidak pernah kering, walau mata jasmaniku melihat semuanya telah kering. Aku&lt;br /&gt;punya alasan untuk menerima jalan keluar dari masalahku. Saat aku mencari,&lt;br /&gt;aku menerimanya karena ada pribadi yang mengasihiku.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;'Bila Anda memiliki alasan yang cukup kuat, Anda akan menemukan jalannya',&lt;br /&gt;demikian kata seorang bijak.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seringkali kita tak kuat melakukan sesuatu karena tak memiliki alasan yang&lt;br /&gt;cukup kuat untuk menerima hal tersebut. (Bits &amp;amp; Pieces, The Economics Press)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;sumber : Dharmajala milist &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7155520434868400626-6279870459262277370?l=tompoh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tompoh.blogspot.com/feeds/6279870459262277370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tompoh.blogspot.com/2009/06/ada-tetesan-setelah-tetesan-terakhir.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7155520434868400626/posts/default/6279870459262277370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7155520434868400626/posts/default/6279870459262277370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tompoh.blogspot.com/2009/06/ada-tetesan-setelah-tetesan-terakhir.html' title='Ada Tetesan SetelahTetesan Terakhir'/><author><name>Budak Bogor</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10357562476023582944</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/SjcavHa1CnI/AAAAAAAAAAM/CcC3ic3_sRQ/S220/indonesia+.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7155520434868400626.post-2787570743207387017</id><published>2009-06-16T13:38:00.000+09:00</published><updated>2009-06-16T13:43:14.667+09:00</updated><title type='text'>Bicara Pada Cermin</title><content type='html'>&lt;p&gt; Ada tiga ungkapan yang saat ini sangat diyakini Rendi। Ungkapan pertama, waktu tak akan mundur ke belakang। Yang kedua: kesempatan tak akan pernah terulang. Dan yang ketiga? &lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Gue nyesel. Nyesel banget!” Rendi menggerutu pada cermin di depannya. Wajahnya memelas, persis kucing yang lagi mengintai ikan bandeng di atas meja makan.&lt;span id="more-5"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Lu sih, dulunya suka nunda-nunda. Rasain sekarang!” lanjut Rendi,  seolah-olah mewakili “suara” cermin di depannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Hush, diam! Gue lagi mengadu, enggak minta nasehat!” Hampir saja tangan Rendi yang gempal meninju cermin yang sok tahu itu. “Gue nyesal! Nyesal seumur hidup!” teriaknya lebih keras lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Enggak usah diulang, gue udah tahu!” Si Cermin berlagak sewot, yang sebenarnya tak lain adalah suara Rendi sendiri, dalam nada yang berbeda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Rendi, kamu belum sarapan, ya?” sebuah teriakan terdengar dari luar, membuat Rendi gelagapan bukan main. Ternyata Mama berada di depan kamarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Rendi enggak lapar, Ma,” dia buru-buru mengenakan singlet.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Tapi kamu harus sarapan dulu.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Entar aja, Ma, digabung sama makan siang.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bahkan selera makan Rendi pun nyaris hilang. Dan semua ini gara-gara Dini, cewek yang telah membuat Rendi menyakini ungkapan ketiga: sesal kemudian tiada guna. Nasi telah menjadi bubur. Dan Rendi sama sekali tidak doyan makan bubur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dini, gadis yang kos di rumahnya, telah menemani hari-harinya dalam setahun terakhir ini. Tapi kini, semuanya akan berakhir dengan perpisahan. Perpisahan yang tragis dan dramatis bagi Rendi, namun tidak bagi Dini. Sebab Rendi yakin, Dini akan menganggap perpisahan mereka biasa-biasa saja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;* * *&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Awal dari semua ini adalah ketika setahun lalu Mama memutuskan untuk memanfaatkan beberapa kamar kosong di bagian belakang rumah mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Lebih baik kalau kamar-kamar itu kita sewakan. Daripada kosong, kan lebih  baik ditempati mahasiswi.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Mahasiswi?” dahi Rendi berkerut. “Mama mau membuka kos untuk cewek? Kenapa  tidak cowok saja, Ma?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ah, Rendi. Kenapa kamu masih alergi sama wanita?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Gara-gara seorang wanita, Yanti meninggal….”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Tiba saatnya kamu melupakan masa lalu, Rendi. Kenapa kamu masih saja menyalahkan dirimu sendiri?” suara Mama terdengar getir. Matanya menerawang, seperti menembus sebuah kenangan yang demikian akrab. “Sejak papamu meninggal dan Meylani pindah ke Yogya, Mama tidak punya lagi teman ngomong. Sementara kamu asyik sendirian dengan cermin yang enggak bisa ngomong itu.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Mama, sih, enggak bisa memahami perasaan Rendi,” sahut Rendi dengan cuek, seolah tak terpengaruh dengan kesenduan Mama. “Pokoknya Rendi enggak setuju kalau mahasiswi!”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Rendi, dengarkan dulu. Cowok itu lebih sulit ngaturnya.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Cewek juga susah ngaturnya,” harga diri Rendi sebagai cowok sedikit terungkit. “Kita harus siap menerima tamu-tamu tak diundang setiap Malam Minggu.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Rendi, jangan membantah terus! Mulai sekarang kamu harus mencoba melupakan masa lalu, dengan cara bergaul dengan para mahasiswi yang akan tinggal di sini.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Masa lalu enggak akan bisa Rendi lupakan, Ma. Rendi memang salah, enggak mau  menjemput Yanti waktu itu.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dada Rendi naik turun. Selama lima tahun terakhir ini ia selalu merasa serba salah. Dan itu membuatnya jadi seseorang yang tertutup, pendiam, dan suka melamun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sementara Mama geleng-geleng kepala menghadapi tingkah anaknya yarig keras kepala. Ia telah bertekad untuk menerima mahasiswi, bukan mahasiswa. Sudah lima tahun lebih Rendi mamutuskan untuk berhenti mengenal wanita. Dan sekarang, putra tercintanya itu harus mengenal mereka kembali. Ia teringat pada percakapannya dengan seorang psikolog beberapa bulan lalu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Sejak adiknya meninggal, Rendi suka bicara sendiri di dalam kamar, Dokter. Ia membeli sebuah cermin besar, dan pada cermin itulah ia mengadukan seluruh uneg-unegnya.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Barangkali anak Ibu memerlukan seseorang sebagai teman bicara,” Sang  Psikolog berujar dengan penuh wibawa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kalau menyangkut masalah pribadi, dia sangat tertutup.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kalau boleh saya tahu, apa yang membuat anak Ibu bertingkah aneh begitu?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Sepertinya dia menyalahkan dirinya sendiri. Ketika SMA, Rendi punya seorang pacar, tapi saya lupa namanya. Yang jelas Rendi sangat sayang pada gadis itu. Suatu hari, saya menyuruh Rendi menjemput adiknya, Yanti, ke tempat kursus. Tapi dia tidak mau, karena sudah ada janji dengan pacarnya itu. Dan akibatnya, ah…,” Mama menahan isakan kecil di tenggorokannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kenapa, Ibu?” Sang Psikolog keheranan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Yanti terpaksa pulang dengan kendaraan umum, Dok. Dan kendaraan itu ditabrak  oleh sebuah truk hingga remuk.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Dan anak Ibu?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Sejak saat itu, Rendi selalu menyalahkan dirinya sendiri, Dokter. Dia merasa telah membunuh adiknya. Dia juga tidak mau lagi mengenal wanita manapun, kecuali saya dan kakaknya, tentu saja. Dokter, apa yang harus saya perbuat? Saya tidak ingin anak saya terus-terusan berbicara pada cermin.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Sebuah masalah yang berat,” Sang Psikolog menarik napas yang juga berat. “Saya kira, Ibu perlu mengusahakan suatu cara agar anak Ibu bisa akrab kembali dengan lawan jenisnya.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka Mama pun menyewakan bagian belakang rumah mereka untuk mahasiswi. Semula sikap Rendi cuek saja, bahkan cenderung antipati. Tapi semakin lama Mama perhatikan, Rendi mulai bisa akrab dengan mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan Dini adalah satu dari enam orang cewek penghuni bagian belakang rumah itu. Dia hadir dengan segala kesahajaannya. Mengenalkan diri sebagai mahasiswi Fakultas Hukum semester satu, berasal dari Garut, lahir tahun 1974, dan suka makan batagor.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mama menarik napas lega ketika melihat Rendi bisa akrab dengan Dini. Walau sebenarnya ia kurang menyukai Mojang Garut itu, terutama pada sifatnya yang terlalu manja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;* * *&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kamu anak ke berapa?” tanya Rendi ketika suatu sore ia dan Dini  berkesempatan duduk-duduk di teras depan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Bungsu dari empat bersaudara,” suara Dini terdengar sangat merdu di telinga  Rendi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Apa sih yang membuat kamu memilih Bandung sebagai tempat kuliah?” Rendi  berlagak jadi wartawan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Abis keterimanya di sini, sih.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rendi manggut-manggut. Semakin ia perhatikan, kok sepertinya ia telah mengenal Dini jauh sebelumnya. Dan tanpa sadar, mereka pun jadi akrab. Tekad dan janji Rendi selama lima tahun terakhir ini, seketika terlupakan begitu saja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kalau lagi nganggur, tanpa segan-segan Rendi mengantar Dini ke kampus dengan Honda Astrea-nya. Dini pun sering minta diantar ke Gramedia atau Palasari untuk membeli buku. Kalau Dini kembali dari mudik, oleh-oleh dodol Garut-nya selalu ia bagikan pada Rendi terlebih dahulu. Kalau Dini lagi ada masalah, selalu ia mengadu pada Rendi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mengingat semua itu, ada yang bergetar di dada Rendi. Memang mereka pernah berselisih, saling ngotot ketika diskusi, atau tidak ngomong selama dua hari. Rendi yang agak egois dan Dini yang manja serta keras kepala, memang cukup potensial untuk menimbulkan perselisihan. Namun secara umum mereka lumayan akrab.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Dia mirip banget sama Yanti,” ungkap Rendi lagi di depan cermin kesayangannya. “Wajahnya, tingkahnya, kemanjaannya, tawanya, bahkan caranya berpakaian. Hei, Cermin; salah apa enggak, sih, kalau gue tertarik sama cewek yang mirip Yanti?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Salah sih enggak. Tapi lu udah melanggar tekad lu semula.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Tapi… tapi gue enggak bisa membendung perasaan yang menggebu-gebu. Setiap kali bersama Dini, gue seperti menemukan kembali adik gue, Yanti, yang meninggal gara-gara kesalahan gue. Ah, Cermin, apakah kamu tidak melihat bahwa mereka begitu mirip?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Cuma perasaan kamulah yang mengatakan mereka mirip.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Tapi sepertinya gue naksir dia.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kalo gitu kenapa lu enggak bilang terus terang sama dia? Kayaknya dia juga  naksir kamu, tuh.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Entahlah, Min, gue ragu. Gue takut banget masa lalu itu akan terulang lagi. Gue enggak bisa mengatakannya sama Dini. Gue dosa besar sama Yanti!”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan Rendi menunduk. Rambutnya diremas-remas. Ia memiliki banyak teman yang bisa dijadikan tempat mengadu. Tapi hanya pada cermin Rendi dapat mengungkapkan semua masalah. la ingin mengatakan pada dunia bahwa dia tertarik pada seorang gadis bernama Dini. Tapi teman-temannya telah terlanjur mengenal Rendi sebagai si Gunung Es.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;* * *&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan tibalah saat yang tidak mengenakkan itu. Awalnya adalah ketika suatu hari Rendi sedang duduk-duduk di teras depan. Tak lama kemudian ia melihat Dini dengan buru-buru turun dari atas sebuah becak. Langkah gadis itu sangat tergesa ketika melewati pintu depan, sehingga tas yang dipegangnya terjatuh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan sigap Rendi memungut tas itu. Tapi matanya kemudian terbelalak melihat  judul sebuah buku di dalamnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kumpulan Soal-soal UMPTN. Lho, untuk apa buku ini, Din?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Mau tahu aja! Cepetan sini tasnya. Aku mau pergi lagi, nih. Tadi ada yang  ketinggalan.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Lho, emangnya kamu mau ke mana?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Biasa, bimbingan tes.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Bimbingan tes?” Rendi terkesiap. “Kamu mau ikut UMPTN lagi?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Enggak ada waktu buat menjawab. Aku udah telat, nih.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bentakan itu membuat Rendi tersudut. Duh, kenapa Dini sampai berniat untuk ikut UMPTN lagi? Apakah dia tidak puas menjadi mahasiswi Fakultas Hukum Unpad yang beken itu? Kalau begitu, perguruan tinggi mana yang ingin diincarnya? Apakah itu masih di Bandung?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seketika Rendi merasakan sesuatu yang aneh menjalari dadanya. Sebentuk perasaan yang membuatnya cemas, takut kehilangan Dini. Tanpa sadar, selama ini ia telah memelihara semacam harapan di dadanya. Dan harapan itu semakin subur ketika Rendi tahu bahwa Dini tidak pernah diapeli seorang cowok pun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kenapa kamu pengen ikut UMPTN lagi?” Rendi berusaha mengintrogasi Dini ketika malam harinya mereka jalan-jalan ke Bandung Indah Plaza.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Aku mau menembus Fakultas Ekonomi UI,” jawab Dini singkat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kenapa? Bukankah sekarang….”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Rendi, aku ingin kuliah di Jakarta. Dan itulah cita-citaku sejak SMA.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Tapi di Bandung kamu bisa melihat Gedung Sate setiap hari,” Rendi berusaha melucu untuk menetralisir perasaan gundahnya. “Kalau dari dulu kamu ingin ke Jakarta, kenapa kamu memilih Unpad?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“ltu adalah pilihan keduaku. Dan aku sangat menyesal diterima di sini, tahu?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ah, dasar anak bungsu. Keras kepalanya enggak hilang-hilang, keluh Rendi dalam hati. Ia jadi ingat beberapa perselisihan mereka belakangan ini, akibat sama-sama keras kepala. Dan Dini selalu memberi ultimatum dengan ucapan, “Kamu enggak berhak mengatur aku, tahu?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kayaknya kamu harus lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, deh,” sifat Rendi yang suka menggurui kumat lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Contohnya?” nada suara Dini menaik, karena dia memang paling anti digurui.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Hanya orang-orang beruntung yang bisa lulus UMPTN, Din. Sementara yang gagal dan jumlahnya tentu puluhan ribu, hanya bisa gigit jari sambil mencari-cari iklan lowongan kerja atau PTS di koran-koran,” Rendi berusaha meyakinkan Dini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Lalu?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ketika kamu lulus UMPTN, kamu telah mengecewakan puluhan ribu pesaing. Dan bila tahun depan kamu ikut lagi, jumlah mereka akan berlipat dua. Atau mungkin lebih, karena persaingan di UI tentu lebih besar.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Rendi, apakah aku harus berpikir sejauh itu?” nada suara Dini mulai  terdengar menjengkelkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Jelas, dong!” Rendi berlagak sok tahu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kalau begitu, perlu kamu catet!” mata Dini mendelik. “Justru saat ini aku  sedang mengutamakan kepentingan umum.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kok bisa?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Sebab negara kita sedang giat melaksanakan pembangunan. Dalam segala hal, pembangunan ekonomi selalu diutamakan. Karena itu aku harus kuliah di Fakultas Ekonomi. Tapi ini enggak berhubungan dengan kamu yang juga kuliah di Fakultas Ekonomi. Ngerti?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ber… berarti kamu akan meninggalkan Ban… Bandung?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ka… kalau aku diterima di UI.” Huh, ngeledek!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kenyataan itulah yang paling ditakutkan Rendi. Bagaimana seandainya impian Dini itu terwujud, dan mereka harus berpisah? Lalu bagaimana dengan hubungan mereka yang terlanjur akrab?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan hanya kepada cermin Rendi dapat mengadu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Gue enggak tahu, Cermin, apakah ini yang dinamakan cinta? Gue begitu percaya persahabatan kami akan berlangsung minimal tiga tahun. Sebab tiga tahun lagi mungkin gue udah lulus. Doakan ya, Cermin, biar gue cepat lulus, dan skripsi gue enggak terhambat. Eh, kira-kira apa judul yang tepat untuk skripsi gue?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan kini, rasa takut itu semakin mendera perasaan Rendi. Terutama setiap kali melihat Dini berangkat bimbingan tes. Niat Dini untuk ikut UMPTN lagi dirasakan Rendi sebagai bom waktu yang akan meledak di saat perpisahan mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada saat inilah dia begitu yakin pada tiga ungkapan di atas. Ketika perpisahan sudah di ambang pintu, barulah ia menyesali, kenapa dulunya ia suka menunda-nunda untuk mengatakan isi hatinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jarak Jakarta-Bandung memang tidak begitu jauh. Surat atau telepon bisa menjadi pengganti tatap muka. Tapi berhadapan face to face secara langsung, tentu memiliki kesan yang berbeda. Ah, betapa menyakitkan sebuah perpisahan!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;* * *&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Surat dari Meylani, kakak Rendi yang tinggal di Yogya, datang ketika Rendi sedang menghadapi ujian semester. Ia menulis dua lembar. Yang selembar untuk Mama, antara lain berbunyi begini:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Ma, apakah Rendi masih suka bicara pada cermin? Apakah Mama masih terus berkonsultasi pada psikolog tentang kelakuan Rendi? Apakah Mama memberitahu Rendi tentang hal itu? Saya setuju sekali bila Rendi tidak diberitahu dulu. Seperti kata Mama, dia belum siap dan bisa tersinggung. Tampaknya Rendi memang masih lebih suka bicara pada cermin daripada dengan psikolog.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan lembar yang satunya ditujukan buat Rendi:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Ren, kalau ada libur panjang, main ke Yogya, dong!&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;* * *&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika libur semester tiba, dan para penghuni bagian belakang rumahnya pada pulang kampung, Rendi merasakan kesepian yang sangat mengganggu. Terlebih karena Dini pun pulang ke Garut. Rendi begitu yakin, tak akan ada lagi kesempatan untuk bertemu gadis manis itu. Bulan Juni lalu Dini telah mengikuti UMPTN, dan semester depan mungkin ia akan menjadi mahasiswi UI dan tinggal di Jakarta.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selamat jalan, Dini. Semoga kamu tidak menyesal memilih Universitas  Indonesia, Rendi meringis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka berangkatlah Rendi ke Yogya. Ia ingin melupakan kekecewaannya dengan bersenang-senang sejenak di Kota Gudeg itu. Ia sudah kangen pada Aan dan Yuyun, keponakannya yang lucu-lucu. Ia sudah kangen pada Meylani dengan suaminya, Mas Agus.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rendi ingin melupakan bahwa ia telah melakukan satu satu lagi kesalahan; ia akan segera kehilangan Dini. Ia tidak berhasil mencegah Dini untuk ikut UMPTN lagi. Dan seketika Rendi merasa, ia akan kehilangan lagi seorang “adik”. Ah, kenapa kejadiannya persis lima tahun silam?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rendi sangat menikmati liburannya. Kalau boleh, ia ingin tinggal di Yogya selamanya, dan tidak pulang lagi ke Bandung. Berada di Bandung akan membuatnya teringat terus pada Dini. Ya, mungkin Rendi harus segera menjemput cermin kesayangannya, dan tinggal selamanya di Kota Gudeg yang ramah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tapi Meylani sangat tidak setuju dengan rencana adiknya itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Bukannya aku enggak suka kamu tinggal di sini. Tapi bagaimana dengan kuliahmu? Kamu sudah menjelang dewasa, Rendi. Karena itu kamu harus mulai mengenal lagi seorang wanita,” Meylani menjelaskan dengan dahi ditekuk serius.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Bagaimana kalau masa lalu itu terulang lagi?” Rendi menantang dengan  suaranya yang lantang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kamu selalu menyalahkan masa lalu! Tahukah kamu bahwa kamu sama sekali tidak pernah membunuh Yanti? Kamu menyesali takdir, Rendi. Dan sebagai lelaki kamu terlalu pengecut. Pulanglah ke Bandung untuk menjadi seorang lelaki dan bukan seorang ahli sejarah. Oh ya, dan berhentilah bicara pada cermin.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rendi diam. Ucapan Meylani membuatnya tertunduk, terutama karena ia dituduh sebagai lelaki pengecut. Sungguh sebuah tuduhan yang menyakitkan, namun sanggup membuat ia merenung selama satu setengah jam. Seandainya Sang Cermin ada bersamanya, mungkin ia sudah ngomong sendirian lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;* * *&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan perlahan, Rendi mengetuk pintu depan rumahnya. Ia berusaha menahan gejolak yang menggelegak di dadanya. Biarlah sebentar lagi Mama membukakan pintu, lalu mengabarkan sebuah berita, “Dini diterima di Fakultas Ekonomi UI, Rendi. Syukurlah, anak manja itu tidak tinggal di sini lagi.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tapi ketika pintu terbuka, Mama cuma tersenyum lebar dan berteriak seperti  tidak bertemu anaknya selama dua puluh tahun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Wah, wajah kamu berkilat sekali, Rendi. Ayo, kamu harus segera mandi. Kemarin ada teman kamu yang nelpon, mau ngajak kamu ke Ciater. Eh, mana oleh-olehnya? Boneka dan mobil-mobilan yang Mama beli, sudah kamu berikan pada cucu-cucu Mama, kan?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rendi tidak bergairah menjawab pertanyaan Mama. Ia capek sekali. Ia ingin  tidur, kalau boleh selamanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tapi baru saja ia hendak melangkah menuju kamarnya, dari bagian belakang rumah itu muncul seorang gadis berlesung pipit. Ia melambaikan tangan pada Rendi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Hai, Gina. Kapan pulang dari Purwakarta? Mana oleh-olehnya?” sapa Rendi  ramah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Tuh, di kamarku. Ayo ke sana, sekalian ngambil surat,” Gina menarik tangan  Rendi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Surat?” Rendi bengong ketika sampai di depan kamar Gina.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Iya. Kemarin Dini ke sini, dan menitip surat buat kamu.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Dini? Titip surat?” Ah, kenapa nama gadis itu masih harus terdengar di telingaku? Rendi mengeluh datam hati. Tapi ia penasaran juga. Kok tumben Dini masih di Bandung? Dan kenapa ia menulis surat untukku?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan penasaran Rendi segera membaca surat itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Rendi, lagi-lagi ternyata aku harus mengakui kebenaran ucapan kamu. Dulu aku begitu yakin bisa diterima di UI. Tapi nyatanya, aku lagi-lagi harus “tercampak” di pilihan kedua; yaitu Fakultas Ekonomi Unpad.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Aku jadi heran, kenapa begitu sulit mencapai pilihan pertama dalam UMPTN. Ah Rendi, kini kita kuliah di fakultas yang sama, malah jurusannya juga sama. Jadi dengan terpaksa aku tetap tinggal di Bandung. Tapi aku sudah pindah alamat.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Aku jadi berpikir, Rendi, mungkin takdir tidak memperbolehkan kita untuk  berpisah. Ada-ada saja, ya?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seperti tak percaya, Rendi membaca lagi isi surat itu. Tidak, ini bukan mimpi. Rendi mencubit lengannya. Dan untuk lebih meyakinkan, lengan Gina pun dicubitnya. Tentu saja Gina menjerit.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Gile, lu! Senang sih senang. Tapi jangan centil gitu, dong!”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rendi tidak mendengar suara Gina yang sewot. Ia dilanda kebahagiaan yang menggebu-gebu. Ah, Dini! Aku sama sekali tidak menduga kemungkinan seperti ini. Sungguh! Dan itu sangat membahagiakanku. Tahukah kamu? Biarlah kamu tidak kos di sini lagi. Rumah ini memang kurang pantas untuk cewek secakep kamu. Yang penting, sekarang kita satu fakultas. Dan aku tak akan kehilangan kamu lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tanpa peduli pada Gina yang menatapnya dengan bengong, Rendi melonjak dengan noraknya. Mungkin saat ini dia adalah lelaki paling berbahagia di dunia. Ia akan mencari rumah kos Dini yang baru. Ia akan segera mengutarakan isi hatinya yang lama tersimpan. Ia akan berusaha agar gadis itu tidak ikut UMPTN lagi tahun depan. Ia akan membuktikan pada Meylani bahwa dia benar-benar seorang laki-laki dan bukan ahli sejarah. Ia akan segera berangkat ke alamat yang ditulis Dini di bagian bawah kertas itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tapi… eit, tunggu! Mungkin lebih baik Rendi ke kamarnya dulu. Ia sudah rindu pada cermin kesayangannya, dan harus segera menceritakan kabar gembira ini. Cermin itu akan ia peluk dan ciumi dengan erat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Sayang sekali, ketika nanti Rendi memasuki kamarnya, cermin itu sudah tidak di tempatnya lagi. Sebab beberapa hari lalu, Mama telah memecahkan cermin itu. Dan ia tak akan mengizinkan lagi Rendi membeli yang baru).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Atas anjuran Sang Psikolog।) (*)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(255, 0, 0); font-family: lucida grande;"&gt;&lt;em&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Cerpen ini adalah pemenang pertama pada Lomba Cipta Cerpen  Remaja Tahun 1994 yang diadakan oleh majalah Anita  Cemerlang.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7155520434868400626-2787570743207387017?l=tompoh.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tompoh.blogspot.com/feeds/2787570743207387017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tompoh.blogspot.com/2009/06/bicara-pada-cermin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7155520434868400626/posts/default/2787570743207387017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7155520434868400626/posts/default/2787570743207387017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tompoh.blogspot.com/2009/06/bicara-pada-cermin.html' title='Bicara Pada Cermin'/><author><name>Budak Bogor</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10357562476023582944</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://3.bp.blogspot.com/_FOLWuEWUrMY/SjcavHa1CnI/AAAAAAAAAAM/CcC3ic3_sRQ/S220/indonesia+.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
